Lama nggak corat coret blog negh…
Maklum Pemkab. Boyolali sudah per 1 Januari kemarin ga connect.
So, ga bisa nge-blog lagi…

Nah, ini aku baru maen-maen ke bagian informatika, kantorku dulu eks-PDE.
O ya… mo woro-woro nih…
Per 1 April 2008 kemarin aku dapat SK Mutasi pindahan ke bagian Hukum dan HAM Sekretariat Daerah Kabupaten Boyolali.

Asing banget, maklum bukan orang lulusan hukum…

Hari Pertama aku latihan inventarisasi Peraturan – peraturan entah itu Perda, PP, Perbup, UU, Permen, SE, dll… Mulai dari nol lagi nih…

Awale aku ngira mo ditempatkan di subbag. JDI. ituloh yang inventarisasi peraturan ke program SJDI Hukum, ternyata dugaan banyak orang meleset, aku staf subbag. Bantuan Hukum (kayak pengacara gitu lah).
Ya. dijalani aja, tapi enjoy banget aku disini, teman2 yang kukenal sekrang baik2….

Jadi inget…
Terus pengen nulis lagi negh…
Kemarin, aq lihat keponakan dari bu kepala kantor n pasangane entah istri atau pacare, kemana2 gandengan tangan terus.
Terus jadi inget ma suamiku.
Dulu ampe sekarang suamiku tuh suka banget gandeng tanganku erat banget, kadang juga kalo dikeramaian suka malu tapi seneng banget. Ga tau lah, mungkin takut kalo aq ngilang kali ya, dan katene tuh salah satu tanda sayang.
Kalo pas naek motor juga, tangan ku kadang suka dipegangi, tuh udah kebiasaan suamiku, kalo aq pas ga pegangan gitu, disuruh pegangan yang erat, takut jatuh soale bebane berat yang belakang, aq ndhut, suamiku cilik buanget. :D

Kemarin aq seharian ga ngantor, ma temen2 kantor takziah, bu kepala kantor baru berduka negh, ibu mertua beliau meninggal dunia Rabu kemarin. Masya Alloh, br dateng disuruh nyatetin data karangan buka yang bejibun banyake dari seluruh Indonesia bayangkan tercatat 186 karangan buka. Kalo dihitung anggarane tuh berape ye? Kantor aja pesen karangan buka @ 350rb. He..he..

Sendiri lagi negh…
Pakne lagi ada tugas di TW 3 hari JUm’at, Sabtu, Minggu…
Payah…
Dirumah cuman ma anakku.
Sebenere week end tuh waktu yang ditunggu2 soale bisa jalan2…
ABCD …. Aduh Boss Capek Deh…

Tadi pagi aq dan suamiku ngobrol tentang “teman” jaman kuliahan dulu. Aq bilang ‘aq kangen banget ma suasana waktu kuliah dengan temen2 ku, sobat2 ku mereka semua baik2, suasana kuliah yang terkondisi di MIPA UNS’ (satu teman baikku adalah suamiku tercinta).

Suamiku bilang ‘teman2 kantornya sekarang juga enak2, nyaman, dan katane di UNS tuh MIPA yang paling nyaman’. aq jadi ngiri nih.

Hampir 2 tahun, aq kerja di PEMDA setiap hari suasana kantor beda, kadang nyaman, kadang ngayelke, buat sedih. Hanya beberapa orang saja yang menurutku ‘baik banget’ dengan semua orang. Aq sebenarnya pengen seperti ‘dia’ melakukan suatu pekerjaan tanpa beban dan dengan rasa ikhlas. Tapi aq harus bisa terbiasa dengan semua itu, dan yang penting aq harus bisa bersyukur dengan pekerjaanku sekarang walaupun dikasih teman yang seperti apapun.

Kemudian kemarin setelah pelatihan website aq maem bareng dengan beberapa teman dan Pak Bambang (tutor website) nah…dari perbincangan itu ada salah satu nasehat “Kita bekerja di suatu tempat itu, seperti air mengalir ikut hanyut tetapi jangan sampai terhanyut”. “Kita harus berjalan lurus, jika suatu saat ada batu, kita harus sekuat tenaga berbelok sedikit agar bisa kembali berjalan”.
Beberapa kalimat itu, yang membuat aq sangat terkesan. Dan dalam benakku “benar juga ya” setelah beberapa hal yang aq alami saat ini.

Kapan yah punya teman2 yang senyaman waktu dikuliahan dulu?

Latihan web sambil nge-blog.
Bete juga. Tapi tiba2 ada yang kirim artikel di messenger ku, temen kuliah ku dl tango law, artikele bagus banget. (semoga suamiku tercinta membacanya juga)

Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun yang sedang
mengarungi bahtera rumah tangga. Mengapa ?

Karena Dia Manusia Biasa …

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan
yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?

Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban
duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P ).

Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini
saya masih ingat setiap detail percakapannya.

Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju
pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan.

Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran.

Proses pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti
saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam
memilih suami.

Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika
dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius.

Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi
kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses
pernikahan.

Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli.

Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.

Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa
memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu
itu

(sok sibuk sih aslinya).

Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia
telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal.

Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan
pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua.

Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita.
Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa
juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga
ingin bercerita banyak pada saya.

Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.

“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham
kondisinya saat ini.

“Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur.”

“Iya.. ya.” Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan lampu
kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
saya pendam.

“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari tidurnya
sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja riasnya.

Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.

Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada
saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang

dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya
memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya
menebak warnanya pasti putih hehehe.

Saya membaca satu kalimat diatas dideretan paling atas.

“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengka n kepala sambil menahan
senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya.

Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan
kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada YTH

Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon
kakak buat adik-adik saya

Di tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini
hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon,
bacalah dulu sampai selesai. Saya, yang bernama …… menginginkan anda
……untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia
biasa.

Saat ini saya punya pekerjaan.Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan
tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan
untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih
kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya.

Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak
kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa.
Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau
membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya
tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya
tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga
menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda ?

Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda.

Saya sudah sholat istiqaroh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih
anda.

Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah
untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah.

Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin
menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.

Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan.

Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini
saya membaca surat ‘lamaran’ yang begitu indah.

Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang
berbunga-bunga.Surat cinta minimalis, saya menyebutnya.

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum
tertahan.

“Kenapa kamu memilih dia.”

“Karena dia manusia biasa.” Dia menjawab mantap. “Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya.

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa.
Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari.

Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku.”

“Maksudnya?”

“Dunia i ni fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada.
Iya kan ? Paling gak.

Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi
gembel.

“Ssttt.” Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum tidur.
Terdiam kita memasang telinga.

Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling
berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.

“Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama.” Kita kembali
rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan kita tadi masih

terngiang terus ditelinga saya.

“Gik…”

“Tidur. Dah malam.” Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia
tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah,

kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih. Satu lagi pelajaran pernikahan
saya peroleh hari itu.

Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang
mengatur segala kehidupannya.

Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh
ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa
lama pernikahnnya kelak.

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah
‘proses usaha’. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan
harta,

tahta dan ‘nama’. Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat
ditanggalkan.Ketika segala yang ‘melekat’ pada diri bukanlah dijadikan
pertimbangan yang utama.

Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah.

Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya.Maka semua
menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang
mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah
pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan
barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga
ketenangan dan kemantapan untuk menikah.

Lalu, bagaimana dengan cinta ?

Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir,
lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan
yang suci. Witing tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo),

kalau diterjemahkan secara bebas. Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan
jiwa).

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha
menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

Wassalam

Kegiatanku hari ini, mo ngapain yah?
O iya, mo pelatihan website.
Neh, mo mulai tapi asyik ngeblok dulu.
Pelatihan website yang kesekian kali negh.
Soale informasi dari depkominfo seluruh website dari kabupaten/kota nama domaine harus diganti semisal www.namakab.go.id begicu.
Nah, ni mo mulai pelatihan website baru untuk updater.

Ups…
Per 1 Januari 2008 katane kantor tempat aku makaryo bubar…
Tak tau lah alasane…yang SOTK barulah…
Uhh…terserah…

Mo ditempatkan dimanapun, OK
Asal ga jauh2 amat, dan transport mudah…
Amien…
maklum lajo dari SOLO-BOYOLALI…

Huh…capek banget nih…
Barusan ikut apel bersama Pak Bupati pengambilan sumpah PNS…
Panassss…Lama banget nih.
Tapi hatiku ceneng, terima eSKa…

Awal lulus tes CPNS 1 tahun 7 bulan yang lalu, aku seneng banget…
Ortuku palagi, kajian syukuran digelar dirumah…

Akhir2 ini sebenarnya aku bingung, antara karir dan keluarga..
Aku pingin dua2nya berjalan seimbang, tapi gimana dengan anakku…
Tapi, Alhamdulillah semuane berjalan lancar…

Capa sih yang kagak pingin jadi Pe Ne eS…
Pe Ne es yang dielu2kan banyak orang…
Pe Ne es yang dicari2 para calon mertua… (karena bisa ngutang kali…)
Pe Ne es yang punya masa depan cerah… (karena dapet pensiunan he..he..)
Pe Ne eS yang dicita2kan para ibu2 muda… (karena kerjaane kagak capek… bisa sambil belanja… jemput anak sekolah, de el el…)

Ehm…

Aku buat blog lagi negh… Sebenere awal buat blog udah lama banget, pas jaman kuliahan dulu :-) Sekitaran Oktober 2004, lama banget kan? Tapi blog kagak keurus, jadi lupa username and pasworde, tapinye ya ga pa2, soale blog yang aku buat tuh cerita masa laluku yang lumayan ‘peteng’. Ga usah dibahas lagi ahh… Jadi inget… Selem…

Waktu buat blog dulu itu sih rada2 emosi gitu, abis disakitin… Namenye juga ‘WANITA’ katane “Hati wanita itu bagaikan bom atom, jika disakiti akan pecah berkeping-keping” (Nyontoh tulisane seseorang -> teman kur2 … cory… ga ada ide). “Hati-hati memilih hati yang sehati karena seringkali hati menyakiti hati yang kurang hati-hati”

Sebenere ga baik juga sigh…
Kalo tau perjalananku setelahnya akan berakhir “damai, adem, ayem, tentrem” with someone else… yang imut dan aku amat sangat cinta banget…

Ya sudahlah, tu merupakan fase hidup…

Halaman Berikutnya »